Kamis, 25 Desember 2008

Motivasi, Yang Baik Sebagai Pemimpin

Apakah Adolf Hitler, si durjana angkara murka itu, adalah pemimpin? Jawab saya, tanpa ragu,: ”Ya! Ia adalah pemimpin”. Juga William Booth, si manusia berhati malaikat itu? Kembali jawab saya, tanpa ragu, ”Tentu! Booth adalah pemimpin”.

Orang-orang sekaliber Soekarno, Nehru, dan Nasser adalah pemimpin. Tapi jangan lupa, begitu pula mbok Carik, si pedagang nasi pecel di Magelang, atau Wakijan, yang pesuruh gereja di Jatinegara. Bu-kankah ini sudah kita bicarakan?

Tentu saja saya memaklumi kebimbangan apa menyelinap di hati Anda. Saya pun demikian, pada mulanya. Namun kini tanpa ragu saya mengatakannya, sebab tak kurang dari Allah sendiri yang menyatakannya. Bahwa setiap orang -- siapa pun dia -- dikaruniai ”tiga -at”. Ingatkah Anda apa itu?

Yaitu, ia diberi amanat, diberi mandat, dan diberi berkat, oleh Allah untuk ”berkuasa atas …” (Kejadian 1:26). Nah, apa lagi namanya ini, kalau bukan bahwa setiap orang diangkat tadi ”pemimpin”, bukan? Bahwa setiap orang diberi ”kuasa”, dikaruniai ”otoritas”, oleh Allah. Yang menjadikan semua orang sama-sama pemimpin! Anda, saya, dia, mereka -- siapa saja!

KALAU ”sama-sama pemimpin”, begitu mungkin Anda bertanya, apa itu berarti semua orang itu ”sama saja” – tak ada bedanya? Wah, kalau ini, lebih baik kita jangan tergesa-gesa. Saya minta Anda perhatikan baik-baik kata-kata yang saya pilih. Yang saya katakan adalah, bahwa semua orang -- siapa pun dia -- adalah ”sama-sama pemimpin”. ”Sama-sama” itu, saudara, tidak sama dengan ”sama saja”.

Cuma orang-orang idiot tidak kepuguhan, yang tidak melihat bahwa ada perbedaan yang besar – bahkan sangat besar – antara Hitler dan Booth, antara Bung Karno dan putra-putrinya, atau antara Osama dan Mandela.

Dan hanya mereka yang IQ-nya betul-betul ”jongkok”, yang tidak mampu melihat bahwa ada orang sekaya Syaiful, yang ”berkuasa atas” tanah, hutan, gunung dan pantai beratus-ratus hektar. Tapi ada pula orang seperti Pardamean, yang hatinya tak pernah damai, karena tanah seluas 12 meter pesegi yang dihuninya bersama keluarga itu pun tidak ia ”kuasai”.
Ada pemimpin-pemimpin yang, seperti sementara nabi, pengaruhnya tak kunjung berkurang, walau telah berabad-abad mereka tiada. Namun sebaliknya ada pula yang seperti tetangga saya, yang terhadap istri dan anak-anaknya sendiri pun, memelas sekali, tak sedikit pun ia punya wibawa.

Jadi, perbedaan itu ada. Dan tidak jarang, perbedaan itu besar sekali. Tapi perbedaan tersebut bukan dalam hal, bahwa yang satu adalah pemimpin dan yang lain tidak. Bukan itu! Mereka sama-sama pemimpin! Cuma saja, dan ini adalah pembeda yang paling mendasar, PEMIMPIN MACAM APA?

Inilah yang membedakan antara pemimpin macam Khatami – yang ingin mendorong proses reformasi – dan Khameini. – yang justru sekuat tenaga menolak perubahan. Atau antara pemimpin macam Yohanes Pembaptis, -- yang pakaiannya sekadar kulit unta dan tak memangku jabatan apa-apa --, dengan Herodes, -- raja yang sah lengkap dengan istana dan tentara, tapi tak lebih dari sekadar ”boneka” Roma.

Jadi yang membedakan seorang pemimpin dengan pemimpin lainnya, adalah KUALITAS KEPEMIMPINANNYA. Bagaimana ia memanfaatkan wewenang kepemimpinan yang ada padanya? Apakah benar-benar untuk membangun? Atau hanya untuk menyamun?
Dengan perkataan lain, apakah status sebagai ”pemimpin” itu, benar-benar dimanfaatkan untuk memimpin? Dan bila ”ya”, ke mana orang ingin dibawa dan dipimpinnya? Pertanyaan-pertanyaan ini begitu relevan sebab, seperti kita lihat, alangkah banyaknya ”pemimpin”, tapi betapa langkanya ”kepemimpinan”!

KUALITAS kepemimpi-nan, pada gilirannya, sangat ditentukan oleh MOTIVASI! Hanya motivasi yang baik, yang bisa melahirkan pemimpin yang baik! Seperti cuma benih yang baik, yang dapat menghasilkan tanaman yang baik.

Tatkala orang masih ”bermain” di ”papan bawah”, persoalan ”motivasi” ini kemungkinan besar belum menjadi masalah. Dalam kedudukan itu, godaan belum terlampau besar. Dan pilihan juga tidak banyak.

Itulah yang dialami oleh Mat Patrol, ketika ia diterima bekerja sebagai pencatat daftar tamu di gardu depan kantor pak menteri. Tugasnya adalah mencatat nama dan alamat para tamu, kemudian menahan KTP mereka.

Keadaan mulai berubah ketika Mat Patrol dipromosikan ke gedung utama. Tugasnya kini adalah mengatur urutan orang yang masuk ke ruang kerja pak menteri.

Pada mulanya tak ada yang istimewa. Sampai suatu ketika, seorang tamu diam-diam menyelipkan ”amplop”. Yang bersangkutan minta didahulukan masuk, dengan alasan harus mengejar jadwal penerbangan kembali ke Pontianak.

Pengalaman pertama ini disusul oleh yang kedua, kemudian ketiga, dan seterusnya. Dan ini menyadarkannya bahwa, walau ia cuma Mat Patrol, ternyata ia punya ”kuasa” juga!. ”Kuasa” yang bisa dimanfaatkan menjadi ”laba”.
Kesadaran ini ini memunculkan sebuah masalah baru. Persoalan ”motivasi”. Yaitu, untuk apa dan bagaimana orang memanfaatkan ”kuasa” di tangannya? Dengan ”bathil” atau dengan ”adil”? Untuk ”membantu” atau ”membantun”?

Apa yang ingin ia capai atau peroleh, dengan otoritas yang ada padanya? Dan dengan cara bagaimana ia akan mencapainya? Adakah batas-batas atau rambu-rambu tertentu?

KESADARAN mengenai betapa krusialnya masalah ”motivasi” bagi seorang pemimpin, sudah lama ada. Ini antara lain nampak dalam karya Shakespeare, yang melalui mulut Wolsey, memberi peringatan kepada sang pemimpin revolusi Inggris yang amat termashur, Oliver Cromwell. Katanya, ”Cromwell, aku titahkan engkau, campakkanlah jauh-jauh ambisi dari padamu! Oleh dosa yang sama, malaikat-malaikat telah jatuh dalam hina. tak terkira. Karenanya bagaimana mungkin, manusia, citra Sang Maha Pencipta, berharap mau memetik keuntungan dari padanya?”

Memang, sebagaimana telah saya katakan, alkitab tidak mengutuk ”ambisi” itu an sich. ”Ambisi” adalah bagian hakiki dari kemanusiaan kita. Tanpa kerinduan yang berkobar-kobar untuk ”lebih”, bagaimana mungkin ada perubahan? Dan tanpa perubahan, bagaimana mungkin ada perbaikan?

Bahkan ber”ambisi” untuk menjadi pemimpin gereja pun, menurut Paulus, adalah baik. Luhur. Mulia. ”Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah”, begitu ia berkata (1 Timotius 3:1). Gereja saya mengalami kesulitan mencari kader-kader pemimpin yang baru, karena banyak orang ”berendah-hati” secara salah, tidak mau mengatakan ”mau”. Takut dituduh ”ambisius”.

Benarlah yang dikatakan oleh J. Oswald Sanders (”Spiritual Leadership”), bahwa alkitab tidak pernah menentang atau melarang ”ambisi”. ”Ambisi” pada dirinya adalah ”netral” – tidak ”baik” atau ”jahat”. Yang membuat ia ”baik” atau ”jahat”, adalah moralitas di baliknya. Dengan perkataan lain, ”motivasi”nya.

Inilah inti peringatan Yeremia, ”Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri?” (45:5). J. Oswald Sanders menamakannya ”self-centered ambition”; ”ambisi yang berpusat pada kepentingan diri sendiri”. Ini yang buruk. Ini yang jahat.

KETIKA renungan ini dipersiapkan, Indonesia sedang riuh rendah oleh pekik puluhan partai dan ribuan orang yang saling berlomba, ingin dipilih jadi pemimpin. Salahkah ini? Tidak!
Persoalannya adalah, apakah mereka layak untuk dipilih? Baiklah untuk Anda saya tegaskan, bahwa yang layak dipilih bukanlah mereka yang suaranya paling lantang! Bukan mereka yang pawai-pawainya paling meriah! Bukan mereka yang janji-janjinya paling indah! Bukan mereka yang paling royal bagi-bagi baju kaus, duit atau bendera. Juga bukan mereka yang pintar memperalat sentimen-sentimen primordial.

Menurut Yesus, ”Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Markus 10:43-44). Ini patokannya!
Jadi? Jadi cermatilah! Siapa di antara mereka yang bersedia menempuh jalan-jalan berlumpur, ketika rakyat tertimpa banjir atau tanah longsor? Siapa di antara mereka yang bersedia terbang jauh, untuk berbagi hati dan berdoa bersama dengan masyarakat yang tertimpa bencana gempa hebat? Siapa di antara mereka yang bersedia tidak sekadar ”mejeng” atau pasang aksi di depan kamera televisi, tapi mau merogoh saku atau menyumbang darah sendiri untuk para korban demam berdarah?

Kalau cuma sekadar pamer untuk membuktikan bahwa ia berani makan ayam, sambil direkam puluhan wartawan., ah, ini sih ”Siapa takut?!”. Kalau cuma sekadar bikin pernyataan betapa terkejutnya hati ibunda, tatkala mendengar betapa seriusnya wabah demam berdarah, ini sih malah tambah memrihatinkan lagi!
Apalagi kalau kemudian kunjungan ke daerah bencana sekadar merupakan kedok untuk memperoleh publikasi, agar meraup banyak suara dalam pemilu nanti. Wah, alangkah kejinya! Alangkah nistanya! ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar